






BANDUNG, KOMPAS.com--Seratusan aktivis Front Pembela Islam (FPI) Jawa Barat melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, mereka menolak peredaran film "?" (baca: tanda tanya), Selasa.
"Film itu menyerang dan mencederai umat Islam. Kami tidak bisa menerimanya, konsekuensinya film itu harus ditarik dari peredaran," kata Koordinator Aksi FPI Abdul Kohar.
FPI Jawa Barat menyatakan dengan tegas menolak pemutaran film "?" karya sutradara Hanung Bramantyo itu di bioskop-bioskop di Jawa Barat.
Selain itu, massa juga menyeru agar Disparbud Kota Bandung dan bioskop-bioskop di Kota Kembang untuk tidak memutar film tersebut.
"Bila tuntutan kami tidak diindahkan, maka kami akan melakukan ’sweeping’ ke bioskop pemutar film itu," kata Abdul Kohar.
Pada kesempatan itu, FPI memberi batas waktu selama tiga hari bagi bioskop-bioskop di Bandung dan umumnya di Jawa Barat untuk menarik peredaran film tersebut terhitung mulai Selasa (10/5).
"Kami tidak bisa menerima film tersebut karena jelas mencederai umat Islam. Batas waktunya tiga hari untuk menarik peredaran film itu dari wilayah Jawa Barat," katanya.
Pada kesempatan itu, FPI mengkritisi Lembaga Sensor Film (LSF) yang telah meloloskan film itu, padahal terdapat beberapa materi dan adegan yang mencederai umat Islam.
Sementara itu Arifin, salah seorang aktivis FPI menyebutkan, FPI memiliki tim yang bertugas untuk melakukan pemantauan film sehingga film tersebut tidak luput dari pengamatan tim itu.
"Tim ahli FPI memantau film tersebut, hal itu sebagai bentuk langkah antisipatif kami dalam menyelamatkan umat dan generasi muda," kata Arifin. (Kompas.com)
JAKARTA - Front Pembela Islam (FPI) menyerukan agar film ’ (tanda tanya) diboikot. Bahkan FPI mengharamkan film garapan Hanung Bramantyo ini untuk ditonton.
“Film ? adalah film liberal yang sesat dan menyesatkan sehingga haram ditonton oleh umat,” tegas Ketua FPI DKI Jakarta, Habib Salim Selon, di Gedung Film, Pancoran, Jakarta, Jumat (15/4/2011).
FPI juga meminta agar seluruh kru film ? termasuk para produsernya untuk meminta maaf karena telah melukai perasaan umat Islam. Bahkan jika Erick Tohir yang juga pemilik Harian Republika tidak meminta maaf, FPI menyerukan untuk memboikot semua medianya.
“Mereka harus meminta maaf pada umat Islam atau kita akan memboikot Erick Tohir dan semua medianya,” pungkasnya.
Sebelumnya, Banser NU memprotes konten film di mana salah satu dialog mengatakan menjadi anggota Banser adalah pekerjaan. Padahal kenyataannya, menjadi Banser NU tidak dibayar dan untuk menjadi anggota butuh pelatihan.
Ketua GP Ansor, Nusron Wahid, sudah mengklarifikasi dan meminta Hanung untuk mempelajari lebih dalam soal organisasi di bawah Nahdlatul Ulama itu. Protes tidak hanya datang dari GP Ansor atau Banser, melainkan juga dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Bahkan MUI mengancam akan memfatwa haram film ?, lantaran pesannya dapat mendangkalkan akidah umat Islam. Kini, FPI pun mengharamkan film ? ditonton, karena menyesatkan.(nov)


+-+Mediafire+Links.jpg)






